keluarga, perempuan, Review

Review Ingenuity baby base 2 in 1 & Richell Baby Spoon

Seperti disebutkan di posting saya sebelumnya, saya mau review beberapa untuk produk pendukung MPASI Bitha.

Kali ini saya mau review Ingenuity baby base 2 in 1 dan Richell Baby Spoon.

Alasan mengapa saya memilih Ingenuity baby base 2 in 1, karena pilihan saya dan si Bapak adalah sesuatu yang ringkas, high chair bukanlah pilihan kami, Karena menurut kami cari saja yang bisa diletakkan di kursi, tidak perlu menambah banyak perabot rumah yang menghabiskan tempat.

Pertimbangan lainnya juga harus nyaman untuk bayi Bitha yang tepat berusia 6 bulan sewaktu mulai MPASI, dan juga bisa dipakai dalam jangka waktu cukup lama. Istilahnya sih ga mau rugi πŸ˜€

Lapisan bagian dalam yang berwarna, empuk nyaman diduduki, dan bila anak bayi  beranjak besar bisa dilepas.

Blog -2

Ini penampakan bayi Bitha untuk MPASI pertamanya, duduk anteng tanpa perlawanan πŸ˜€ Kalau di rumah, kami letakkan di kursi makan, jadi bisa bareng makan dengan kami juga.

Tali-tali pengikatnya bisa dilepaskan, dan di bawah kursi ini ada tempat untuk menyimpannya, jadi kalau kemana-mana ringkas, Apalagi tray-nya juga bisa disimpan ke bagian bawah kursi seperti laci.

Secara keseluruhan saya suka produk ini, apabila dilengkapi tas akan lebih baik, mungkin bisa pesan ke laba-laba untuk tasnya, semakin ringkas bila hendak bepergian.

Belinya di mana ?  di toko online, kemarin lihat di toko bayi MKG 3 juga ada, dan toko bayi retail di ITC Kuningan juga menjual produk ini.

Dan untuk sendok bayi merk Richell, saya suka karena nyaman digenggam, ukurannya tepat untuk bayi cilik yang baru MPASI ini, dan teksturnya yang lembut, Bitha suka gemes gigit-gigit sendoknya πŸ˜€

Blog -1

Sendok ini dilengkapi tempat juga, memudahkan bila hendak dibawa, tidak perlu takut kotor.

Belinya di mana? toko online banyak, di toko bayi juga banyak yang jual πŸ™‚

Lihat tuh kakak Bitha makan duduk manis, lipat tangan sambil lihat mommy-nya suapin. I love you  kakak Bitha nande Ribu… Makan yang pinter dan tertib ya nakku… : ) πŸ™‚

 

 

Advertisements
Breastfeeding, keluarga, perempuan

PEJUANG ASI

ASI adalah salah satu hal yang terbaik yang bisa ibu berikan ke anaknya. Saya percaya ada yang dikaruniakan ASI yang berlimpah, cukup dan kurang.

Kalau saya termasuk kategori cukup, kan katanya ASI ini permainan pikiran juga. Jadi selalu saya anggap ASI saya cukup buat kebutuhan si bayi. Kalau banyak yang menyebutkan ibu pemberi ASI dengan sebutan Pejuang ASI, saya setuju dengan sebutan itu.

Ini saya mau ceritakan sedikit bagaimana sehari-hari saya agar bisa bawa oleh-oleh buat baby Bitha.

Kami biasanya berangkat dari rumah pukul 5.30, kalau masih sempat bisa pumping 1 PD, baru mandi, menyiapkan bekal, dan berangkat. di mobil menuju stasiun pumping 1 PD satunya lagi. Kenapa tadi ga langsung dua-duanya? satunya sudah dihabisin Bitha jadi biar sempat loading lagi πŸ˜€

Perjalanan rumah – stasiun kira-kira 35 menit, sempat pumping dan dandan ala kadarnya. Beruntung punya suami yang mengerti bawaan istrinya sepertiΒ orang mau camping, jadi jalan dari parkiran, di kereta dan selama transit-transit di stasiun dan nyambung ke halte busway, semua perlengkapan cooler bag, pompa ASI dan segala perkakasnya, bekal makan siang dan tas ransel lengkap dengan notebook dan keperluan kerja dibawakan oleh suamiku yang paling ganteng di dunia ini :*

Jadi saya cuma bawa semua alat perang itu cukup dari halte ke kantor, beruntungnya halte berada tepat di depan kantor saya.

Perjalanan dari rumah sampai duduk manis di kantor kira-kira 2.5 jam. Sampai kantor langsung pumping lagi. Sayang sekali di gedung saya bekerja tidak ada ruang menyusui, adanya di mall yang connecting dengan gedung kantor, cukup makan waktu kalau harus jalan ke sana. Jadinya saya pumping di toilet VIP, di ruangan meeting kantor ga bisa pumping, CCTV tiap sudut, ke arah mana saja tidak bisa.

Walaupun kantor tinggal selangkah ke mall, jarang sekali turun. Karena harus pumping ASI tepat di jam makan siang, dan sore sebelum pulang. Angan-angan Β kalau pindah kantor di sini bakal sering cuci mata, say bye.. byeee.. dulu yaaa..

photo_collage_maker_2p0kcn1
Tiap hari harus semangat, biar bisa bawa oleh-oleh ASIP untuk baby Bitha :*

Mengarungi perjalanan antar galaxy, saya pun sampai di stasiun tujuan, di mobil lanjut pumping lagi. Pokoknya kata sandi-nya pumping dan pumping lagi. πŸ˜€ πŸ˜€

Jadwal pumping juga harus disesuaikan, seperti beberapa waktu lalu acara kantor roadshow dari pagi sampai malam di salah satu hotel, untungnya sekarang hotel bintang 4 ke atas harus ada klinik, jadi bisa pumping di situ, dan juga tersedia kulkas. Aman dan nyamanlah hati ini. Tinggal atur jadwalnya kapan harus ngacir ke klinik untuk pumping.

Nanti kalau mulai tugas luar kota, tantangannya beda lagi harus atur strategi juga.

Terkadang saya berpikir apa saya sanggup, apalagi terkadang hasil pumping sereeettt banget, bikin khawatir cukup atau tidak nanti buat baby Bitha.

Tapi melihat dulu Kalev bisa dapat ASI sampai 22 bulan,di mana emaknya sering tugas keluar. Percaya dan semangat, Bitha juga pasti bisa. Keadaan sekarang jauh lebih enak, zamannya Kalev, emaknya penuh drama kehidupan, pumping juga pakai pompa manual. Sekarang jauh lebih mudah dengan pompa electric yang bisa double pumping. Saya pakai Spectra 9 plus, yang sampai saat ini happy dan cocok dengan breast pump ini.

Buat teman-teman seperjuangan, ibu-ibu menyusui…KitaΒ harus tetap semangat !!! harus berpikiran positif !!! dan pastinya selalu Happy πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

keluarga, perempuan, Uncategorized

Safe Deposit Box

Rencana untuk membuka SDB ( safe deposit box) sudah ada dari awal tahun, tapi baru terlaksana Desember ini, ga perlu ditanya kenapa, pasti terlalu banyak alasan :p

Dengan sok PD tanpa telepon untuk konfirmasi ketersediaan SDB saya langsung meluncur ke Plaza Mandiri di gatsu. Ternyata semua ukuran sudah full, padahal menurut saya di sini yang paling nyaman untuk SDB, karena berada di basement dan tersendiri, beda dengan cabang lain.

image

Karena penuh saya pun dianjurkan ke cabang patrajasa ( tidak semua cabang tersedia SDB )

Membuka SDB sangatlah mudah, kalau di Bank Mandiri, cukup punya rekening, bawa KTP dan pasfoto. Kita juga bisa menunjuk 2 orang kuasa, jadi bisa kuasa yang kita tunjuk untuk mengambil atau menaruh barang.

image

Biayanya pun cukup terjangkau, ukuran mini 200rb, kecil 400rb ( per tahun) yang lumayan itu uang jaminannya 750rb. Ini kalau2 kunci yang dipinjamkan ke kita hilang, jadi harus dibobol dan uang jaminan kita hangus.

Kalau saya pilih yang mini saja, berhubung yang disimpan juga mini hehehehehe… :p tapi ukuran mini tidak bisa menyimpan dokumen, lebarnya setengah dari ukuran kecil.

Dokumen apa saja yang perlu disimpan di SDB?

Akte pendirian perusahaan
Akte tanah
Akte rumah
Surat BPKB
Dll

Saya rasa saya belum perlu, masa yntuk nyimpan BPKB namah 200rblagi, sedangkan ruma belum ada aktenya (belum lunas :p )

Nah tergantung kebutuhan apa saja yang mau disimpan. Kalau perlu menyimpan surat berharga minimum pilih yang ukuran kecil. Saya sih cuma mu nitip emas upilan (bukan batangan). Tabungan buat masuk TK n SD Kalev, juga beberapa kado waktu Kalev lahir.

Walaupun jumlahnya tidak banyak, karena sewaktu saya susun di box terasa sangat kosong (padahal ukuran mini hehehehe), saya rasa sangat penting. Bayangin aja kalau hilang, nangis guling-guling dah emaknya Kalev.

Belajar dari pengalaman kakak sendiri, semua emasnya ludes digondol kucing rampok, kadang bukan saja secara nilai uangnya, tapi nilai sejarah, pemberian ortu sewaktu menikah, anak lahir, kado-kado dari teman (emas pastinya).

Nah kamu bagaimana?
Sudah buka SDB belum? πŸ˜‰

blogger, Gawe, keluarga

Indah Sitepu Niat Hadir di Pesta Blogger 2008

Hari ini aku ikutan pesta blogger 08, eh bukan hari ini ding kemarin, ini udah jam 1 malam πŸ˜›

Karena beberapa hari sebelum pesta blogger kerjaan sibbuuuuukkk abiezzzzzzzzzz, meng-email temen2 blogger untuk minta nomer hp hanya selalu masuk to do list yang aku siapkan setiap hari sebelum bekerja. Tapi tetap saja karena kerjaan numpuk hal itu selalu tidak tercapai untuk dieksekusi.

Pesta Blogger hanya satu minggu dari pameran Indocomtech stamina anak mudanya ini drop, tapi tidak sampe sakit hanya badan pegal dan seperti meriang.

and then ndahhh???

keluarga

The Next Generation of Blogger ^_^

Fritz Tarigan namanya, umurnya 3 tahun, tapi kalo di depan laptopnya bisa tahan 3 jam euuyy…

Bukan blogging atau chatting sihh, masih maen2 doankkk…

Tapi inget zaman aku kenal komputer, anak sekarang 3 tahun juga dah ngerti ngidupin laptop sampai milih program permainan mereka, kalo aku dulu 3 tahun masih ngepain yahh?? hehhehe

Btw keponakanku cakep khan????

keluarga

Mamiku

” Jalan yang benar”, “duduk yang tegak” itu berulang-ulang yang aku dengar dari mamiku. Bagaimana mengajarkan postur berdiri yang baik, duduk yang baik. Dan tidak bosen2nya ngasih tau aku, ini sewaktu aku SMP sampe SMA. Asli bosen dan kesal banget. Mungkin karena aku anak yang asal, kadang kalo jalan sama mami dan aku jalannya bungkuk mami ngingetin aku dengan sedikit menepuk punggungku. Behh asli BT banget. Kenapa sih mami sampe segininya aja diurusin juga. Pfuuhhhh….

Apa karena mamiku itu berasal dari suku Jawa yang terlalu memperhatikan hal-hal yang dulu menurutku itu sama sekali ga penting. Tapi sekarang aku ngerti kalo itu ada baiknya sama aku, walaupun mami kurang berhasil ngingetin aku untuk bicara sedikit lembut seperti perempuan-perempuan berdarah biru halllaahhhh πŸ˜› gimana ya mi darah boleh separuh jawa, tampang juga bisa tak tertebak batak, tapi onderdil dan jeroan2 termasuk pita suara batakkkk abiiieezzzzz hehehhehehe

Trus ndah….

jalan, keluarga, kepikiran

Melancong di Negeri Sendiri

Teringat sewaktu saya kelas 2 SMA, saya tidak masuk pada hari pertama tahun ajaran baru, karena bis yang saya tumpangi dari Jogja menuju Medan tidak sesuai dengan jadwal, atawa telat.

Liburan panjang saat itu saya dan abang no.3 berlibur ke Jogja, mengunjungi eyang putri (nenek dari ibu), abang no.1 dan kakak no.2 yang sedang kuliah di sana.

Akibat telat satu hari masuk sekolah, tidak bisa milih tempat duduk dan juga teman sebangku. Berhubung saat itu teman sebangku saya di kelas 1 tidak masuk kelas yang sama di kelas 2. Pasrah duduk di mana dan dengan siapa.

Pastinya tempat duduk yang tersisa adalah yang terdepan, dan teman sebangku saya hari itu senasib dengan saya, satu hari telat masuk sekolah. Bedanya dia baru balik berlibur dari New York.

Melihatnya saya sudah tahu pasti kami beda” kasta”. Dia mengeluhkan pada saya kalau badannya pegal semua karena berapa belas jam di pesawat. Dalam hatiku menggumam, ” belum pernah mungkin kau rasakan berapa hari di bis kayak aku yakk..” Sayapun cuma tersenyum saja.

Ternyata si teman sebangku hanya bertahan 1 hari, entah kenapa dia pindah ke kelas lain, dan teman sebangku berikutnya telat masuk sekolah beberapa hari. Setelah mengobrol ternyata dia baru balik liburan keliling Eropa bersama keluarganya.

Si teman sebangku ini juga pindah ke kelas lain beberapa hari kemudian. Pernah beberapa bulan juga sebangku dengan seorang yang punya inisial nama yang sama dengan Saya ” I.S”, ini juga beda “kasta”. Akhirnya saya menemukan sebangku yang cocok, inisial “RST”. Berasal dari Kabanjahe, sangat sederhana, dan sangat pintar. Kabarnya sekarang dia lagi di Inggris mengambil kuliah S2.

Saya teringat hal di atas karena sewaktu mendekati liburan natal yang cukup panjang kemarin, seringnya selesai meeting dan pergi makan siang bersama. Saling menanyakan libur kemana. Ada yang menanyakan ke saya ” tidak ke ‘luar’ ndah?” Karena mereka menceritakan pengalaman2 mereka berlibur ke ‘luar’.

Beda sewaktu SMA dulu, saya sedikit minder karena merasa berasal dari keluarga yang sederhana. Sekarang dengan santainya saya menjawab, “ah.. masakan saya mau jalan – jalan ke luar negeri sedangkan saya belum pernah ke Bunaken, P. Lombok, P. Komodo, negeri sendiri aja belum abis dijelajahi.”

Tapi setelah saya tanyakan ke mereka yang ceritanya pernah berlibur ke negara2 lain, ternyata mereka jarang berlibur ke daerah di negeri sendiri. Agak miris hati ini mendengarnya.

Entah kenapa setiap kali saya berlibur ke Danau Toba, saya tetap takjub akan keindahannya. Menginap beberapa hari di Tuk Tuk, suatu daerah di Pulau Samosir bersama keluarga sangat menyenangkan.

Liburan kemarin saya ke Jogja bersama seluruh keluarga, berhubung kakak ipar berasal dari Manado dan belum pernah ke Borobudur, kamipun ke sana. Sebenarnya agak malas juga sih. Bagi kami yang dulunya kuliah di Jogja ke Borobudur menemani saudara yang berkunjung ke Jogja kami sebut dengan istilah “lihat batu”

Tapi liburan kali kami tidak hanya “lihat batu”. karena kami satu keluarga lengkap dengan cucu dan mantu, saya usul untuk pakai guide saja, nambah tidak seberapa dan kita bisa belajar banyak.

Tidak terhitung kunjungan saya yang ke berapa ke Borobudur Desember kemarin. Tapi mendengar penjelasan sang Guide membuat saya melongo dan terkagum-kagum. Guide menjelaskan Sejarahnya, dari pembuatan, makna2 dari pemilihan tempat dibangun candi tersebut, makna relief, proses pemugaran, teknik pembuatan yang membuat candi tersebut. Pokoknya wow banget, sepertinya arsitek dan sarjana teknik sipil zaman bahuela lebih canggih dari yang sekarang.

Keesokan harinya kami ke Keraton, kali ini mami papi enggak ikut, lagi-lagi karena kakak ipar yang belum pernah ke keraton kami berkunjung ke sana. Saya sangat suka mendengarkan Guide menjelaskan sejarah keraton, makna dari posisi keraton, Bisa lihat di foto di bawah. Si Bapak ini bukan sedang menjelaskan strategi perang ataupun strategi menyerang dalam sepak bola. Sedang menjelaskan posisi Gedung Keraton dan artinya. Terlihat keponakan saya yang berumur 5 dan 2 tahun memperhatikan dengan serius. Lagaknya seperti mereka mengerti.

img_0071kk.jpg

Setelah itu saya minta diantar pulang dulu, karena mereka ingin melanjutkan dengan wisata belanja, yang saya kurang mahir untuk menikmati wisata yang satu ini. Bukan karena saya pelit, memang kurang bisa menikmati saja. Berjalan -jalan lihat sana sini belum tahu yang dibeli apa seringnya membuat saya sakit kepala.

Liburan kemarin sangat berarti buat saya, semua keluarga berkumpul.

Saya tidak sabar, masih dalam wacana kami sekeluarga ingin mengunjungi abang yang bertempat tinggal di daerah Sulawesi Utara, sekalian berlibur ke Bunaken.

Tapi keluarga berharap di saat itu yang belum punya pasangan diharapkan sudah punya pasangan. Itu berarti saya dan abang saya yang tertua. Mmmhh may their wish come true… πŸ™‚

Dengan adanya Visit Indonesia Year 2008, saya sangat berharap kita sendiri sebagai warga negara Indonesia mau mengunjungi daerah wisata negeri sendiri yang saya rasa sangat elok. Dengan kekayaan alam dan budaya potensi Indonesia sangat tinggi.

Walaupun tidak saya pungkiri saya punya mimpi ingin berkunjung ke Negara Perancis, dan mengunjungi daerah-daerah pinggiran negeri tersebut.

Setidaknya mari cintai negeri sendiri terlebih dahulu..